Selasa, 01 Januari 2013

Sejarah Tahun Baru Masehi dan Menurut Pandangan Islam

(Arrahmah.com) - Selang beberapa hari kedepan, sebagian besar orang di berbagai belahan dunia akan kembali menyelenggarakan event tahunan yang biasa digelar secara kolosal. Na'am, acara ini biasa disebut dengan tahun-baruan. Entah sudah kali keberapa kegiatan ini juga mewarnai aktivitas orang Indonesia di setiap akhir penghujung tahunnya. Yang jelas, ia tak pernah absen untuk membawa sekian risalah di setiap kehadirannya.

Tak jelas kapan budaya ini masuk ke Indonesia, tapi yang pasti ia selalu dijaga keeksisannya. Ia nampak seperti sesuatu yang ditunggu-tunggu, yang serasa menjadi ketidak-afdholan bila dibiarkan tanpa dirayakan. Kesibukan pun kemudian akan tampak menghinggapi berbagai kalangan, mulai dari manusia di tingkat kota-kota besar hingga menyeruak ke kampung-kampung pinggiran, dari golongan bermodal besar hingga ke kalangan ecek-ecek—semua tampak mulai berkemas-kemas menyambut tahun-baruan ini. Tak terkecuali para pelaku pasar yang telah jauh-jauh hari mempersiapkan dagangannya guna memanfaatkan momen yang hanya setahun sekali ini. Ada dari mereka yang menciptakan pernak-pernik yang biasa menjadi kebutuhan untuk event ini, seperti terompet beraneka jenis, atau kembang api dan petasan dengan bermacam ukuran. Di bidang lain, sejumlah besar fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan dan perhotelan, masing-masing berlomba dalam merebut konsumen dengan menjajakan diskon dan kupon yang menggiurkan serta penawaran keuntungan lainnya. Belum lagi tempat-tempat hiburan yang semangat menjaring calon pengunjungnya di musim liburan ini dengan menjanjikan keceriaan dan kemeriahannya di detik-detik pergantian tahun. Pokoknya semua tampak satu-padu…

Namun masalahnya, beginikah cerminan umat Islam yang (masih) selalu ikut-ikutan dalam budaya yang tidak dikenal dalam dien yang haq ini?

Berikut beberapa hal yang seharusnya kita fahami sebagai seorang muslim dalam kaitannya dengan risalah ini:

1. Budaya tahun-baruan, bukan budaya Islam

Perkara ini sebenarnya sudah jelas bahwa tahun-baruan adalah hasil transfer kebiasaan bangsa lain yang tidak berkiblat kepada Islam. Oleh sebab itu, budaya ini menjadi keharaman untuk dikerjakan dan diterapkan dalam kehidupan seorang muslim. Konon, bangsa Persi kuno lah yang telah melakukan aktivitas ini pada masa kejayaannya. Ia merupakan sebuah ritual yang dikhususkan untuk mengagungkan dewa api. Mereka yang merupakan kaum Majusi, yaitu yang menganggap api sesuatu yang memiliki kekuatan sehingga karena kepercayaan itulah mereka menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari penobatan raja baru mereka yaitu yang dipersangkakan sebagai hari terciptanya api. Dalam perayaan ini, sepanjang malam mereka berpesta, menyalakan bunga-bunga api, mengkonsumsi minuman keras, dan turun ke jalan-jalan. Bukankah gambaran tersebut merupakan kesamaan dengan yang terjadi pada masa-masa sekarang ini? Sepatutnya seorang muslim menghindari aktivitas ini karena ia merupakan salah-satu bentuk dari kemaksiatan yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta'ala. Seorang muslim yang bertauhid akan selalu berusaha menjaga marka-marka syari'at yang akan menghindarinya dari ancaman kefasikan. Ia akan menjaga kemuliaan dien Islam dan inilah salah-satu sifatnya orang yang beriman.

Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "…Allah menjadikan kamu cinta akan keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (QS. al-Hujurat, 49:7)

Event tahun-baruan juga termasuk hari raya umat lain, sehingga hari tersebut bukanlah hari yang pantas dirayakan oleh umat Islam. Namun akhir-akhir ini perhelatan akbar ini pun kemudian dialihkan beberapa ustadz yang menyikapi berbondong-bondongnya kaum muslimin yang ikut dalam rutinitas perayaan tahun baru Masehi di setiap tahunnya, dengan menggantikan posisi kemeriahan tahun baru Masehi kepada aktivitas do'a dan dzikir akbar. Lalu tersusunlah program yang ditujukan untuk menyelisihi apa-apa yang ada di dalam perayaan tahun baru Masehi tersebut. Tak nampaklah jua bahwa bentuk 'penyelisihan' seperti itu adalah juga bentuk lain dari tasyabbuh yang dilarang Rasulullah. Ibnu Umar ra menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

Artinya, "Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut." (HR. Ahmad)

Dalam Iqtidha Sirathiil-Mustaqim, Mukhalafatu Ashabil-Jahim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah berkata, "Perbuatan meniru-niru mereka (umat kafir) dalam perayaan mereka dapat menyebabkan seseorang bangga dengan kebathilan yang ada pada mereka. Bisa jadi hal tersebut akan lebih memotivasi mereka (umat kafir) untuk memanfaatkan momen tersebut (dalam menyia'arkan kesesatannya)."

Selain itu, Rasulullah saw pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبدلَكُمْ بِهِمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَ يَوْمَ الْفِطْر.

Artinya, "Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari raya tersebut dengan dua hari raya yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Idul Fitri." (HR. Abu Dawud)

2. Tabdzir dilarang oleh syari'at

Sebagaimana sifat dari sebuah pesta dan kemeriahan adalah adanya pengadaan fasilitas penunjang yang menuntut pula adanya ketersediaan materi. Pemenuhan kebutuhan tersebut tentu saja bernilai sia-sia dikarenakan event ini tak ada tuntunannya dalam syari'at Islam. Sementara Allah Ta'ala mengharamkan segala bentuk penyia-nyiaan, baik penyia-nyiaan dalam bentuk peribadahan seperti praktek kebid'ahan, maupun penyia-nyiaan dalam bentuk harta dan waktu. Allah Ta'ala telah mengingatkan manusia tentang salah-satu sifat buruk yang dibencinya yaitu sifat boros,

Artinya, "…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangatlah ingkar kepada Tuhannya."" (QS. al-Isra', 17:26-27)

Tasyabbuh perayaan tahun-baruan juga jelas menjadi sifat penyia-nyiaan kesempatan beribadahnya seorang muslim kepada peribadahan yang diperintahkan Allah Ta'ala atau kepada sunnah-sunnah yang Rasul-Nya contohkan. Sementara beliau saw telah bersabda,

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مًحَمَّدٍ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ شَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ مُحْدَثَةٍبِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَ كُلَّ ضَلَالَةٍ فِيْ النَّارِ.

Artinya, "Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Tidaklah ada perkara yang tidak atau belum beliau saw sampaikan kepada umatnya, termasuk perkara ini. Ibnu Mas'ud ra meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menyampaikan sebuah sabdanya,

لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ إِلاَّ وَ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ, وَ لاَ عَمَلٍ يُقَرِّبُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ.

Artinya, "Tidak ada dari sesuatu amalan yang mendekatkan ke surga, kecuali telah aku perintahkan kepada kamu dengannya dan tidak ada dari sesuatu amalan yang mendekatkan ke neraka, kecuali pasti telah aku cegah kamu darinya. " (HR. Imam Al-Hakim)

Kegiatan perhelatan tahunan seperti ini sudah memiliki kejelasan tentang keharamannya berdasar sabda Rasulullah serta tidak adanya perilaku beliau saw yang pernah beliau saw tunjukkan semasa hidupnya, tidak pula oleh para sahabatnya dan oleh orang-orang yang mengikutinya kemudian dari kalangan para sholafush sholih. Barangsiapa yang tetap berpegang-teguh berkiblat pada aktifitas di luar Islam ini, maka ia telah mengekor pada kebiasaan dan tradisi adat jahiliyyah. Bukankah sudah diketahui bahwa asal-usul perayaan ini adalah upaya bangsa musyrik Persi kuno pada masa berkuasanya raja Nairuz dalam pengagungannya kepada dewa api, sedangkan Ibnu Umar ra dahulu pernah menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ تَثَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

Artinya, "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud)

Semoga kita tidak termasuk golongan yang mendapat ancaman kemurkaan dari Allah Tabaraka wa Ta'ala.

3. Waktu tidak berulang

Semangat yang tergambar jelas dari penyongsongan event tahun-baruan ini begitu sangat terasa. Ditandai dengan hilir-mudiknya orang-orang dalam mempersiapkan datangnya hari pergantian tahun Masehi, khususnya dalam mengisi waktu libur dengan jadwal-jadwal perpelancongan ke berbagai tempat, baik yang ada di daerah mereka maupun tempat-tempat persinggahan di negeri-negeri lain. Semua dilakoni dengan begitu bersemangat demi tercapainya tujuan: meraih kepuasan dan kesenangan dunia.

Ini tentu semangat yang keliru, karena dengan begitu—otomatis waktu dan kesempatannya untuk beribadah dan bermuhasabah kepada-Nya menjadi terbengkalai. Padahal tidaklah Dia memperpanjang nafas seorang muslim selain untuk beribadah kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS.adz-Zariyat, 51:56 )

Na'am, aktifitas seorang muslim yang sesungguhnya adalah berkutat dengan peribadahan kepada Rabb-nya, apakah peribadahan itu berbentuk sholat, shaum, shodaqoh, mencari ma'isyah, beramar ma'ruf-nahyi munkar, tholabul ilmu, maupun berdzikir dan bermuhasabah. Semua hal tak lepas dari mengibadahi-Nya semata, saling sambung-menyambung, berkaitan, dan berketerusan. Tidak diridhoi-Nya perkara apapun yang menyebabkan seorang manusia terlalai dari tugasnya beribadah atau berpaling kepada prilaku menghambur-hamburkan waktu yang telah dikaruniakan-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja-keras (untuk urusan yang lain)." (QS. an-Nashr, 94:7)

Lalu bagaimana dengan aktifitas muhasabah yang dikhususkan pada momen-momen tertentu seperti pada event tahun-baruan yang belakangan mulai sering dilaungkan?

Pada dasarnya muhasabah memang diperintahkan Allah Ta'ala kepada setiap hamba-Nya seperti yang Dia maktubkan dalam kitab-Nya,

Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Hasyr, 59:18)

Ayat tersebut memerintahkan manusia untuk bermuhasabah di setiap harinya dan di setiap apa yang telah dilakukannya, bukan malah menunggu pelaksanaannya hingga penghujung tahun akan berakhir misalnya, terlebih dengan berjama'ah pula. Imam Ibnu Katsir dalam mentafsir ayat tersebut mengatakan bahwa Allah Ta'ala memerintahkan kepada setiap hamba-Nya untuk menghisab diri-diri mereka sendiri sebelum hari penghisaban tiba, dan agar setiap diri melihat apa-apa yang telah mereka tabung untuk diri-diri mereka kelak yaitu berupa amalan sholih yang kelak akan dihadapkan kepada Rabb-Nya. Sementara Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ighosatul Lahfan min Masayyidis Syaithon mengatakan bahwa seharusnya muhasabah itu dilakukan di dua keadaan, yaitu pada saat sebelum beramal—dimana kita menghisab terlebih dulu tentang amalan yang akan kita kerjakan itu; apakah bersumber dari keihklasan semata-mata karena mengharap ridho-Nya dan apakah memang disyari'atkan Allah Ta'ala melalui Rasul-Nya? Apabila telah memastikan dua kriteria ini terpenuhi, maka barulah amalan yang dimaksud bisa diamalkan. Dan keadaan muhasabah yang kedua adalah ketika sudah melakukan suatu amalan, yaitu dengan mengintropeksi apakah pada amalan tersebut telah terjadi kekurangan atau mungkin tidak dilakukan dengan kekhusyu'an hati. Beberapa hal inilah yang tidak terpenuhi oleh kaum muslimin yang melakukan muhasabah berjama'ah khusus pada perayaan tahun-baruan, mereka boleh saja mengatakan bahwa amalan tersebut datang dari keikhlasan hati dan dengan niat yang baik, namun itu tidak menghantarkan mereka kepada ridho-Nya karena syari'at tidak menitahkan demikian. Pernahkah Rasulullah bersama para sahabatnya berkumpul untuk melakukan amalan tersebut? Pernahkah para tabi'in dan sholafush-sholih pada zamannya juga melaksanakannya? Bila ini tidak terpenuhi, ketahuilah bahwa hal itu bukanlah muhasabah dan kaum muslimin belum bermuhasabah dengan sebenar-benarnya. Sebab makna muhasabah yang sesungguhnya adalah untuk meringankan hisab kita di hari kiamat kelak, sementara amalan yang dibuat-buat seperti pada muhasabah massal perayaan tahun-baruan hanya menambah berat buruknya hisab.

Tidaklah seorang muslim beramal dalam keluasan hari-hari yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya, sementara hari-hari yang telah dimilikinya tidaklah mungkin terulang, sedangkan amalan telah baku tercatat, apatah lagi hari esok belum pasti menghampiri. Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, "Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah hidup beberapa hari saja; setiap kali waktu berlalu, berarti hilanglah pula sebagian dirimu." (Siyar A'lam an-Nurbala', 1/496)

Selayaknya kaum muslimin meneladani Rasulullah dan para sahabatnya. Tolak beragam tipu-daya setan yang mengikis akidah umat di event-event seperti ini dengan bergerak mendakwahkan kebenaran dan mengajak umat untuk mengisi hari-harinya dengan amalan-amalan yang disunnahkan Rasulullah. Janganlah kita mengikuti perkara yang mungkin belum kita ketahui ilmunya, seperti firman-Nya,

Artinya, "Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabannya." (QS. al-Isra', 17:36)

Dia juga berfirman,

Artinya, "…dan janganlah kamu mengikuti hawa-nafsu mereka (orang-orang fasik) dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…" (QS. al-Ma'idah, 5:48)

Firman-Nya pula,

Artinya, "Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa-nafsu mereka dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik." (QS. al-Ma'idah, 5:49)

Sementara Imam Ahmad pernah mengatakan bahwa tanpa ilmu, manusia itu hidupnya seperti binatang. Dan janganlah juga kita asyik bermasyuk-diri membiarkan diri tenggelam dalam kesesatan, sementara ilmu telah kita ketahui. Khawatirlah bahwa bila Allah Ta'ala berkehendak, Dia akan biarkan hati kita mengeras karena kita menafikkan kebenaran yang telah kita temukan tentang suatu syari'at-Nya.

Selain itu ada pula sikap sebagian muslimin yang ikut-ikutan merayakan tahun-baruan karena gengsi bila absen dari lingkungannya yang telah terbiasa andil dalam perhelatan ini. Untuk alasan yang seperti ini, waspadalah! Karena sikap tersebut bisa merupakan pertanda bahwa kita telah terjerumus meladeni hawa-nafsu orang-orang fasik dan kafir yang senantiasa berupaya menjauhkan seorang muslim dari syari'at dien-Nya. Waspadalah karena Allah Ta'ala telah membuat peringatan ini bagi hamba-hamba-Nya yang beriman,

Artinya, "Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (QS. al-A'raf, 7:202)

Lalu Allah Ta'ala juga mengabarkan keadaan apabila setan-setan itu telah menguasai akan hati-hati seorang muslim, yaitu firman-Nya,

Artinya, "Syaitan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi." (QS. al-Mujadalah, 58:19)

Mudah-mudahan kita dihindari dari perbuatan golongan yang merugi tersebut.

4. Perayaan Natal + perayaan tahun-baruan = perayaan kemusyrikan yang selalu beriringan

Kedua perayaan ini tampak satu-padu dan saling mengisi masing-masingnya. Setiap ucapan selamat Natal tersebut, maka senantiasa ucapan selamat tahun-baru akan mengiringinya. Keduanya memang sama-sama memiliki keharaman untuk turut dirayakan oleh umat muslim. Masing-masing mempunyai dalil yang kuat, seperti hukum yang berkaitan dengan perayaan Natal, berikut beberapa firman-Nya yang berkaitan dengan pengharaman Natal dan turut-sertanya seorang muslim dalam Natal dan berbagai aktifitas yang bertujuan sebagai pengagungan syi'ar-syi'anya:

a. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Sungguh telah kafir orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putera Maryam." Padahal Al-Masih sendiri berkata, "Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmua." Sesungguhnya mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surge baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang zalim itu." (QS. al-Ma'idah, 5:72)

b. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa azab yang pedih." (QS. al-Ma'idah, 5:73)

c. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Dan mereka berkata, "(Allah) Yang Maha pengasih mempunyai anak. Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar., hamper saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu), karena menganggap (Allah) Yang Maha pengasih mempunyai anak." (QS. Maryam, 19:88-92)

d. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dioa tidak meridhoi kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridhoi kesyukuranmua itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sungguh, Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam dada(mu)." (QS. az-Zumar, 39:7)

5. Kemaksiatan dalam event tahun-baruan

Beberapa kemaksiatan yang biasa terjadi dalam event tahun-baruan, diantaranya yaitu:

a. Ikhtilath, yaitu ketika berdua-duaannya seorang ikhwan dan akhwat tanpa mahram dan juga tanpa kepentingan yang disyari'atkan agama, misalnya dengan melakukan perjalanan dalam kegiatannya merayakan tahun-baruan.

b. Khalwat, yaitu bercampur-baurnya ikhwan dan akhwat di satu tempat tanpa adanya batas-batas yang menghijabi keduanya dan dalam keadaan yang bukan suatu kedaruratan dalam syari'at, misalnya ketika berkumpul di tanah lapang atau pelataran yang dijadikan tempat perayaan pesta tahun-baruan.

c. Tabdzir, yaitu ketika kemampuan yang dimiliki, baik berupa uang, kendaraan, kesehatan, atau waktu luang disalurkan bukan kepada yang mendatangkan mashlahat, atau dijadikan fasilitas untuk menunjang kegiatan yang diharamkan Islam, seperti tahun-baruan ini.

d. Tasyabbuh syari'at kafir, yaitu dengan mentransfer berbagai gaya hidup syari'at di luar Islam seperti perayaan tahun-baruan untuk dibumikan menjadi adat kebiasaan pula dalam kehidupan seorang muslim.

e. Bid'ah, yaitu ketika mengupayakan sebuah budaya non Islam seperti tahun-baruan ini untuk kemudian di'selisihkan' dengan peribadahan lain yang dianggap lebih afdhol dan lebih bermanfaat.

f. Pengkonsumsian hal-hal yang diharamkan, seperti meminum minuman keras, membakar petasan dan kembang-api, memperdengarkan musik, dan sebagainya.

Semoga kita bisa mengisi hidup yang diamanahkan Allah Ta'ala ini dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan mengganti hari-hari kemarin yang sempat ternoda kemaksiatan dengan rutinitas sunnah Rasul-Nya. Bersegeralah berpaling dari golongan yang terancam dengan kerugian. Mari fahami sekali lagi firman-Nya,

Artinya, "…hendaklah setiap diri memperhatikan (mengintropeksi-diri) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok dan bertakwalah. Sesungguhnya Allah Maha tahu dengan apa yang kamu perbuat." (QS. al-Hasyr, 59:18)

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu 'alam bisshowwab.

Oleh: Ustadz Abu M.Jibriel Abdurrahman


Sumber : Arrahmah.com

Senin, 31 Desember 2012

Itsar ( Mendahulukan kepentingan Orang Lain )

Imam Muslim meriwayatkan, suatu hari seorang musafir menemui Rasulullah SAW dan berkata " Ya Rosulullah, saya kelaparan dan engkaulah yang terbaik yang pernah aku dengar "

Lalu Nabi mendatangi seorang istrinya, berharap ada makanan yang bisa di berikan kepada tamunya. " Tidak ada apa-apa kecuali air minum," jawab istri beliau. Jawaban serupa beliau peroleh tatkala memasuki rumah istri-istri beliau yang lain. Akhirnya beliau berkata kepada para sahabatnya. " Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini, insya Allah, akan mendapat rahmat-Nya"

Lelaki itu lalu di ajak oleh Abu Thalhah ke rumahnya. Setelah mempersilahkan tamu itu duduk, Abu Thalhah bertanya pada istrinya " Adakah makanan buat tamu Rasulullah ini ?"
" Secuil makanan pun tidak ada kecuali untuk sekali makan anak kita," jawab Rumaisha binti Milhan,atau lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim.
" Baiklah, tidurkan saja anak kita. Hidangkan makanan itu buat kawan kita."

Sang istri lalu menghidangkan sepiring makanan untuk tamunya. Tetapi tamu itu lantas berkata kepada Abu Thalhah,  " Saya hanya mau makan bila anda ikut makan bersama saya."
" Baik, tapi silahkan anda makan disini, sedangkan saya akan bersama istri saya di dapur," kata Abu Thalhah.

Demikianlah, lalu tamu itu makan dengan lahap. Dari tempat duduknya, ia melihat bayangan pasangan tuan rumah di dapur seperti sedang makan bersama. Ia pun mendengar denting sendok dan piring dari sana. Ia tak sadar bahwa sng tuan rumah sedang berpura-pura ikut makan, karena lampu rumah itu sengaja di padamkan.

Setelah kenyang, tamu itupun pamit. Tinggalah Abu Thalhah dan keluarganya tidur menahan lapar.

Keesoakn harinya, Nabi SAW menyambut Abu Thalhah dengan senyum lebar. " Ketahhuilah sahabatku, Allah SWT terpesona dengan pengorbananmu dan istrimu semalam," kata beliau sambil menyampaikan wahyu dari Allah yang baru beliau terima. " ... Mereka telah mendahulukan kepentingan orang lain walaupun mereka sedang kesusahan." ( Q.S. Al-Hasyr:9)

Petuah untuk Murah Rizeki dan di jauhkan Kesulitan

Abu Yazid Al Bhustami, pelopor sufi pada suatu hari pernah di datangi seorang laki-laki yang wajahnya kusam dan kening nya selalu  berkerut, "Tuan guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Oang lain sudah lelap saya masih berminajat, istri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pengemis yang enggan mencari rezeki. Tapi mengapa saya selalu malang dan m engalami kesulitan ?"

Sang guru menjawab sederhana " Perbaiki penampilanmu dan robahlah roman mukamu. Kou tahu, Rasulullah SAW adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rosulullah SAW, salah satu penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya." Lelaki itu tertunduk, iapun berjanji akan memperbaiki penampilannya.

Mulai hari itu, wajahnya senan tiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdulillah sesudah itu tak pernah lagi datang untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga, sikapnya ramah, wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat dan roman mukanya berseri.

Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, "Awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan murah senyum." Bahkan Rosulullahn SAW menegaskan "Senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya"

Rabu, 14 November 2012

Lebih besar daripada zina

Suatu senja, seorang wanita melangkahkan kaki mendekati kediaman Nabi Musa. Setelah mengucapkan salam, dia masuk sambil terus menunduk. Air matanya berderai tatkala berkata, " Wahai Nabi Allah, tolonglah saya. Doakan agar Allah mengampuni dosa keji saya."
"Apakah dosamu wahai wanita ? " tanya Nabi Musa.
" Saya takut mengatakannya " Jawab wanita itu.
" Katakanlah, jangan merasa takut. " Desak Nabi Musa.
Maka perempuan itupun dengan takut bercerita, " Saya telah berzina," Kepala Nabi langsung terangkat, hatinya tersentak.
" Dari hasil perzinahan itu saya hamil, dan setelah anak itu lahir, langsung saya cekik lehernya sampai mati." Lanjut perempuan itu seraya menangis.
Mata Nabi Musa berapi-api. Dengan muka yang berang dia menghardik " Perempuan celaka, pergi dari sini. Agar siksa Allah tak jatuh kedalam rumahku. Pergiii !!! " Teriak Nabi Musa sambil berpaling karena jijik.

Hati perempuan itu bagai kaca membentur batu, hancur luluh. Dia menangis tersedu-sedu dan keluar dari rumah Nabi Musa. Ia tak tau harus kemana lagi mengadu, bahkan dia tak tau harus kemana melangkahkan kaki. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana manusia lain akan menerimanya ?

Sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Jibril lalu bertanya, " Mengapa engkau menolak seorang wanita bertaubat dari dosanya ? tidaklah engkau tau dosa yang lebih besar daripada itu ... ?? "
Nabi Musa terperanjat. " Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita penzina dan pembunuh itu .. ?? Benarkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang hina itu .. ?" Tanyanya
" Ada.. !!" Jawab Jibril " Yaitu orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa menyesal, orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina. "

Mendengar penjelasan itu, Nabi Musa memanggil wanita tadi, lalu berdoa memohon ampunan kepada Allah. Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan solat tanpa penyesalan seakan menganggap remeh perintah Allah. Sedangkan bertaubat dan menyesali dosa dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dalamnya dan yakin Allah itu ada.

Lima wasiat Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sahabat Rasul SAW , Abu Bakar Ash- Shiddiq berkata " Kegelapan itu ada lima dan pelitanyapun ada lima. Bila tidak waspada, lima kegelapan itu akan menyesatkan dan memperosokan kita kedalam panasnya api neraka. Tetapi, barang siapa teguh memegang lima pelita itu maka dia akan selamat di dunia dan akhirat."

Kegelapan pertama adalah cinta dunia ( hubb al-dunya). Rasulullah bersabda : " Cinta dunia adalah biang segala kesalahan " ( H.R Baihaqi ).
Manusia yang berorientasi duniawi, ia akan melegalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Untuk memeranginya, Abu Bakar memberikan pelita berupa taqwa. Dengan taqwa, manusia lebih terarah secara positif menuju jalan Allah, yakni jalan kebenaran.

kegelapan kedua, Berbuat dosa. Kegelapan ini akan tercerahkan dengan taubat nashuha ( tobat yang sungguh - sungguh ). Rasulullah bersabda , " Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila dia berhenti dari berbuat dosa dan memohon ampunan serta bertobat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik noda nya itu sampai memenuhi hatinya."  ( HR. Ahmad). Inilah al-roon (penutup hati) sebagaimana disebutkan dalam QS. Al- Muthaffifin (83)  ayat 14,  yang artinya " Sekali - kali tidak ( demikian ), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka "

Ketiga, Kegelapan Kubur, akan benderang kegelapan kubur dengan adanya siraj ( lampu penerang ) berupa bacaan laa ilaaha iilallahMuhammad Rasulullah . Sabda Nabi SAW, " Barang siapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha iilallah, ia akan masuk surga." Para sahabat bertanya , " Wahai Rasulullah, Apa wujud keikhlasannya ? " Beliau menjawab " Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian."

Keempat, Alam akhirat, alam akhirat sangatlah gelap. Untuk meneranginya, manusia harus memperbanyak amal shaleh. QS. Al-Bayyinah (98) ayat 7-8 menyebutkan " Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik - baik makhluk (7) Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya yang demikian itu adalah ( balasan ) bagi orang yang takut kepada Tuhannya."
dan mereka kekal di dalamnya ( surga )

Kegelapan ke lima adalah,  shirath ( Jembatan penyebrangan diatas neraka ) dan yaqin adalah penerangnya. Yaitu, meyakini dan membenarkan sepenuh hati segala hal yang gaib, termasuk kehidupan setelah mati ( eskatologis ). Dengan keyakinan itu, kita akan lebih aktif mempersiapkan bekal sebanyak mungkin untuk bekal menuju alam abadi ( akhirat ).

Demikian Lima wasiat Abu Bakar. Semoga kita termasuk pemegang lima pelita itu, sehingga menyibak kegelapan dan mengantarkan kita ke kebahagiaan abadi di SURGA. Amin ya robalalamin...

Sabtu, 29 September 2012

Andai Aku Bisa Memberi Lebih Banyak

Seperti yang telah biasa di lakukan ketika salah satu sahabat nya meninggal dunia, maka Rosulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya di sempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan bertawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rasulullah SAW bertanya, " Tidak lah almarhumah mengucapkan wasiat sebelum wafat nya ? ". Istrinya almarhum menjawab " Saya mendengar dia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal - sengal menjelang ajal ".

"Apa yang di katakannya ? " tanya Rasulullah lagi . "Saya tidak tau ya Rasulullah SAW, apakah ucapan itu hanya sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapan nya memang sulit di pahami lantaran merupakan kalimat yang berpotong - potong " jawab istri almarhum. " Bagai mana bunyinya ? " Desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab "( Andai Kala lebih jauh lagi ... andai kata yang masih baru ... andaikata semuanya ...) hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan - perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan - pesan yang tidak selesai ? "  Rasulullah SAW tersenyum " sungguh yang di ucapkan suamimu ituh tidak keliru"

Kisahnya begini, ada suatu hari ia sedang bergegas ke mesjid untuk melaksanakan shalat jum'at. Di tengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk - saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata " Andikan lebih jauh lagi " Maksudnya andaikan jalan ke masjid itu lebuh jauh lagi pasti pahalanya lebih besar lagi.

"Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW ?" tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab " Adapun perkataannya yang kedua di ucapkannya tatkala ia melihat hasil perbuatan nnya yang lain. Sebab pada waktu berikutnya, waktu ia pergi ke  masjid pagi - pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk mengigil kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru selain yang di pakainya. Maka ia mencopot mantel yang lama, di berikannya kepada lelaki tersebut dan mantelnya yang baru lalu di kenakannya. Menjelang saat - saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga iapun menyesal dan berkata, " Andaikata yang masi baru ku berikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama pasti pahalaku jauh lebih besar lagi ". Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

"Kemudian ucapan yang ketiga apa maksudnya ya Rasulullah SAW ? " tanya sang istri penuh dengan rasa ingin tau. Dan Rasulullah pun menjelaskan " ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan diminta disediakan makanan ? Engkau menghidangkan sepotong roti yang di campur dengan daging. Namun, tatkala hendak di makannya, tiba - tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah di berikan kepada musafir itu. Dengan demikian, ketika suamimu akan menghembuskan nafasnya ia menyaksikan balasan perbuatan pahala dari amalnya itu. Karenanya ia pun menyesal dan berkata " Kalau aku tau begini hasilnya, musafir itu tidak hanya aku beri saparoh. Sebab andai kata ku beri semuanya kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda "

Begitulah keadilan Tuhan pada hakekatnya. Apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung bukan orang lain. Lantaran segala tindak - tanduk kita tidak lepas dari penilaian ALLAH. Sama halnya saat kita berbuat buruk, akibatnya juga menimpa kita sendiri.


" Kalau kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula " . ( QS. Al isra : 7 )

Jumat, 28 September 2012

DIMANA ALLAH ??

Alkisah ada seorang pemuda yang bekerja sebagai pengembala domba. Jumblah domba yang dia gembalai berjumbkah ratusan ekor, bertahun - tahun dia bekerja tak pernah mengeluh walau hasil jerih payahnya tak seberapa.

Suatu ketika, datang seorang musafir yang sangat kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Melihat ada pengembala domba tersebut, gembiralah hati musafir itu. Sang musafir meminta minum kepada si pemuda sang pengembala domba tersebut. Namun pemuda itu menjawab bahwa dirinya tak punya air minum untuk di berikan kepada si musafir.

Musafir tersebut kemudian memohon memelas agar mengizinkan untuk mengambil air susu dari seekor domba yang di gembalakan si pemuda itu, pemuda tersebut menolak dengan halus. " Ayolah saudaraku, tolonglah aku, aku sangat haus. Izin kan aku untuk memerah dombamu sekedar beberapa teguk untuk menghilangkan dahagaku " ujar sang musafir, pemuda itu menjawab, " Domba - domba ini bukan kepunyaanku, aku tak berani mengizinkan engkau sebelum majikanku kengizinka nya "

Pemuda itu mengatakan lagi " Kalau kou mau, tunggulah di sini sebentar ku carikan telaga dan ku ambilkan air minum untuk mu saudaraku " . Kemudian pergilah pemuda tersebut mencarikan air minum untuk sang musafir. Setelah dapat, di berikan nya air itu kepada sang musafir, " Alhamdulillah, segar sekali rasanya " kata sang musafir " terima kasih wahai anak muda " lanjut sang musafir itu.

Kemudian, mereka beristirahat sejenak untuk berbagi kisah. Siang semakin terik. " Mengapa tadi kamu tidak ikut minum ? " tanya musafir terhadap pemuda tadi. " Maaf, saya sedang pusa " jawab si pemuda. Musafir itu tercengah mendengar pengakuan si pemuda tersebut, " Matahari semakin tinggi, sedangkan engkau berpuasa ? " tanya musafir itu. Pemuda itu menjawab " Aku berharap kelak mudah- mudahan  ALLAH menaungi diriku pada saat hari kiamat nanti, karena itu aku berpuasa " 

Rasa kagum dan penasaran, membuat si musafir ingin mengetes keimanan si pemuda pengembala tersebut. Lalu si musafir itu berkata " Hai anak muda, bolehkah aku membeli seekor saja dombamu ? , aku lapar tolonglah diriku " 

" Maaf tuan, aku tidak berani sebelum mendapat izin dari tuanku " kata pemuda itu. 

" Ayolah anak  muda, domba yang kkou gembalakan sagatlah banyak, tentu tuanmu tak akan mengetahui meski kou jual seekor saja, perutku sangat lapar tolonglah aku" Rayu musafir tersebut. 

"Aku sungguh ingin menolongmu, kalau saja aku memiliki makanan, tentu akan ku berikan untukmu tuan " ucap pemuda tersebut. 

"Tidak akan ada yang tau hai anak muda, ku berikan seribu dirham untukmu untuk seekor domba saja. Ayolah, tidak lah kou kasihan padaku ? " Kata musafir itu yakin bahwa pemuda tersebut akan goyah dengan suap seribu dirham. 

Musafir itu terus memaksa si pemuda itu untuk menjual dombanya, bahkan musafir itu tambah gusar dan marah. 

Akhir nya pemuda itu berkata " Majikanku bisa saja tidak tau kalau aku menjual dombanya seekor saja, sebab jumlahnya sangat banyak dan mungkin saja majikanku tak akan menanyakan domba - dombanya. Dia tak akan rugi meski aku menjual seekor di antara domba kepunyaan nya. Tapi kalau aku berbuat begitu lalu dimana ALLAH ? di mana ALLAH ? di mana ALLAH ? sungguh aku tak mau di dalam dagingku tumbuh duri neraka karena uang yang tidak halal bagiku


Pemuda itu menangis karena takut tergoda berbuat sesuatu yang dimurkai ALLAH. Dia menanggis karena kecintaannya kepada ALLAH. 

Musafir itu tertegun " ALLAHUAKBAR " musafir itu ikut menangis. 

"Katakan padaku wahai anak muda, dimana majikanmu tinggal ? aku ingin membeli dombanya" kata musafir tersebut. 

Lalu, ditebuslah pemuda itu dengan memerdekakannya dari setatus hamba sahaya. 

Dalam lanjutan perjalanannya, Umar masih takjub dengan kisah yang baru dia alami. 

Dimana ALLAH ? ini yang menggetarkan hati Umar. Rasa takut keada ALLAH tidak menggoyahkan iman seorang pemuda tadi meski dirayu dengan materi. Duniawi tidak mampu menyilaukan hati pemuda itu karena keteguhan iman yang hakiki.